Nasi di Atas Wadah, Lauk di Atas Piring, dan Sebuah Tradisi

“Masih jam segini, kurang 28 menit lagi ”, sambil melihat HP kulanjutkan lamunanku saat duduk diantara para undangan buka bersama di rumah salah seorang warga dekat posko KKN-ku. Ku perhatikan diantara mereka ada yang ngobrol dengan undangan di sebelahnya sambil sesekali tertawa lepas. Ada yang diam seperti sedang memikirkan masalah yang rumit dan ada juga yang memberi isyarat pada anak-anak muda untuk segera menghidangkan santapan berbuka puasa. Sambil menatap karpet merah yang ku duduki aku mengingat-ingat kembali apa yang terjadi hingga aku sampai di tempat ini.

Masih teringat di anganku bagaimana suara tawa riang remaja MTs Tanwirul Hija mengikuti les komputer yang ku beri nama Computer Fun Training. “OK adek-adek, siap belajar komputer?”, serentak gemuruh suara mereka memenuhi balai desa Cangkreng ini. Meski hanya duduk diatas lantai keramik putih tanpa alas, calon-calon pemimpin masa depan ini terlihat antusias dengan wajah merona di depan laptop yang telah dipersiapkan sebelumnya. “Adek-adek, kakak-kakak KKN akan mendampingi adek-adek pada masing-masing laptop yang tersedia, bagaimana adek-adek? Siap?”. Begitulah les komputer komputer itu dimulai dengan sedikit instruksi ringan dan dimulailah sharing ilmu komputer di balai desa bercat biru itu. Teman-teman kelompokku terlihat senang membimbing peserta les komputer walaupun sebenarnya ada rasa tidak enak karena sore itu kami diundang untuk menghadiri buka bersama.


“An, sudah jam 5 kurang 10. Ayo cepet diakhiri”, celetuk si Kordes itu menyuruhku. Tepat jam 5 kurang 10, aku yakin sudah terlambat menghadiri undangan, tapi ya sudahlah. Tidak enak juga sama warga kalau tidak hadir meskipun teman kelompokku sebenarnya sudah ada disana. Benar saja, baru saja aku tiba pak kiai, sang opinion leader di desa ini sedang membaca do’a penutup. Sambil memasang tampang tak berdosa kami masuk ke dalam majelis sambil bersalaman pada undangan yang lain. Begitulah aku melamun tentang apa yang baru saja terjadi.

Tiba-tiba pandanganku tertuju pada anak-anak muda yang berjejer di halaman. Aku yakin ini saatnya hidangan akan disajikan, karena merasa muda akupun ikut dalam barisan itu dan hidangan itupun perlahan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Tapi betapa kagetnya, “kok nasi berkat yang dihidangkan tidak dibungkus plastik!?” belum habis rasa heranku keluarlah piring yang membuatku kembali bertanya sendiri, “kok piringnya cuma isi lauk? Gimana cara makannya nih?”.
Kejadian sore ini benar-benar membuatku heran, ternyata plastik memang ada di wadah nasi itu sengaja tidak dibungkuskan pada nasi berkat agar undangan dapat menikmati nasi dengan lauk yang sudah ada di piring. Nah sisa nasi tadi dibungkus dengan plastik yang memang sudah disediakan di wadah nasi untuk dibawa pulang. Sambil menikmati buka puasa diantara kumandang suara adzan di mosholla aku tersenyum sendiri, “ternyata ini tradisi di Cangkreng, berbeda dengan tradisi didesa tempat aku dibesarkan”, gumamku.

Ku pikir aku yang anak desa ini tidak akan mengalami hal yang mengherankan karena sudah terbiasa di lingkungan pedesaan. “Ah, pasti tradisinya sama saja dengan desaku di Pamekasan”. Namun kejadian sore ini membuatku semakin tertarik dengan perbedaan tradisi desa ini dengan desaku. “Kalau di desaku nasi dan lauk lengkap dengan kuah biasa disajikan dalam satu porsi piring, nah di Cangkreng ini nasinya diambil sendiri sesuai dengan porsi tiap orang. Benar-benar kreatif dan pemikiran masyarakat yang efektif”, kataku dalam hati sambil menahan senyum sendiri.

Tradisi hidangan seperti ini membuatku ingin segera pulang dan menceritakannya pada orang tuaku. Karena ku pikir, hidangan seperti itu efektif untuk mengurangi makanan sisa di piring-piring karena tidak sesuainya porsi makanan tiap undangan. Tepat sekali dugaanku, setelah acara selesai aku tidak melihat sisa nasi di piring-piring, semuanya habis. Berbeda sekali dengan desaku yang biasanya banyak sekali nasi yang tersisa setelah selesainya acara undangan.

Ternyata tepat sekali nasehat almarhum kakekku dulu, “belajar itu bukan hanya di bangku sekolah, tapi dimanapun kamu bisa belajar”. Hari ini aku mendapat pelajaran dan pengalaman berharga dari masyarakat desa Cangkreng ini. Aku berharap dapat menerpakannya di desaku untuk memperkecil angka mubaddzir pada hidangan acara undangan, kompolan, dan sebagainya.

KKN UTM 2012 di Desa Cangkreng Kec. Lenteng Kab. Sumenep.

BAGIKAN KE:

    Komentar

0 komentar:

Poskan Komentar